Pertumbuhan investor retail di indonesia sangatlah cepat bertumbuh. Namun perkembangan teknikal analisa masih sama disetiap waktunya . yaitu Candle Stick , Line bar , dan masih banyak lagi. Ilmu yang dimiliki oleh para pelaku pasar seolah – olah turun temurun ditularkan kepada para penerusnya.

MACD atau yang bisa disebut Moving Average Convergence atau Divergence menjadi salah satu alternatif indikator untuk kita para Retail melakukan analisa. MACD Sendiri masuk kedalam indikator Laging . Sehingga data yang diberikannya adalah bukan data terbaek . MACD sebenarnya merupakan perkembangan dari indikator utamanya yaitu moving Average.




Indikator MACD sendiri diciptakan oleh Gerald Appeal pada tahun 1979. Dimana indikator ini digunakan untuk melakukan analisa di pasar valas ( Forex ) . Sebenarnya indikator ini adalah sebuah indikator yang digunakan untuk mengukur trend dan momentum kuat pada pasar. Dengan begitu dapat disimpulkan  bahwa. MACD adalah sebuah indikator yang digunanakan untuk menterjemahkan action apa yang sedang banyak dilakukan oleh pelaku pasar dalam periode tertentu.

Bisanya MACD banyak digunakan oleh retail untuk melakukan analisa :

  1. Mengukur Trend pada saham, Dimana apakah menunjukan Uptrend atau Downtrend
  2. Momentum , dimana apakah saham tersebut dalam posisi Oversold atau Overbought

Penggunaan indikator MACD , bisa kita jumpai pada aplikasi charting pada umumnya. Apabila kalian ingin menggunakannya pada Chartnexus kita tinggal cari saja indikator MACDnya . Maka akan otomatis dalam chart akan tergambar mengenai MACD .

 

Contoh penggunaan MACD pada saham BMRI , Dimana biasanya kita menggunakan periode 12 . 26 , 9. Ini merupakan bawaan default semua MACD . Cara membaca pada MACD adalah , yang pertama pada Bar yang berada di bawah garis adalah OSMA ( Oscillator Moving Average ) dan garis hitam serta merah adalah MACD & Garis sinyal.

Cara membacanya adalah , atau yang paling simpelnya adalah . Beli ketika OverSold dan Jual ketika Overbought. Cara mengetahuinya bagaimana ? . Apabila garis Hitam ( EMA ) dan garis merah berada di posisi bawah . Bawah tersebut berada di bawah garis tengah yang memisahkan antara OSAM atas dan bawah.

Pertanda jika saham akan naik setelah oversold adalah Apabila garis MA sudah membuat lekunfan berbentuk cembung menuju ke atas . Dan biasanya garis hitam akan memotong ke atas dari garis merah. Biasanya dalam aksi perpotongan itu akan dinamakan golden cross. Dimana arti golden cross adalah akan adanya emas yang di dapat pada saham ini . pada kejadian seperti ini , apabila saham tersebut akan membentuk seperti itu action yang harus kita lakukan adalah BUY atau BELI .  Nah setelah beli biasanya kita kan bingung , Jual di berapa ya ? .

untuk patokan jual dengan MACD , adalah kebalikan dari keterangan di atas. Untuk titik jual kita harus secara maksimal mendapatkan cuannya. Karena pada saham apabila kita menaruh jual dengan status MATCHED . maka kalian harus bersabar karena itu berarti kalian harus berlapang dada jika sahamnya naik tinggi. Pada studi dengan indikator MACD ini titik jual biasanya berada pada titik OVERSOLD . Namun belakangan ini apabila saham tersebut hampir menuju titik Oversold harganya sudah keburu turun,




Pertanda jika saham tersebut sudah mau memasuki masa oversold adalah garis MA yang berwarna hitam akan membentuk Cembung ke bawah . Dimana dia akan memotong garis sinyal menuju kebawah, Biasanya pada kejadian seperti ini akan dinamakan Death Cross. Dimana Death Cross berarti adalah persilangan yang mematikan karena sahamnya pasti akan turun dalam sekali menuju ke Oversold kembali.

Terima Kasih belajar kali ini kita cukupkan sampai disini dulu yah. Jangan lupa selalu bantu kami untuk membesarkan website ini dengan subs ke channel teman saham di telegram https://t.me/sahamanda atau kalian bisa ikut diskusi di group Forum Teman Saham https://t.me/sahamandapub.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.