Hari ini Indeks bergerak melemah pada sesi 1 . Saham – saham sektor Finance , Consumer , Trade , Property , Infrastructure & Basic-Ind terlihat memelah paling banyak . Sehingga membuat bobot IHSG semakin berat. Dihari ini , banyak news atau berita baik untuk indeks Kita hari ini . Namun kemarin ada salah satu sekuritas asing dari Credit Suisse menyatakan bahwa mengurangi bobot Indeks Indonesia dari 20% menjadi 10% . Sehingga komposisi indeks hanya sisa 10% OVERWEIGHT.

Betapa sedihnya ketika Bursa kita sedang dirundung kesenangan semenjak berada di 5600 dan naik menuju 6500 an. Sebenarnya yang menilai bagus atau tidaknya berinvestasi di Indonesia adalah para asing bukan dari Sekuritas Indonesia sendiri. So peluang indeks bullish sebenarnya masih besar. Bukan dari faktor asing melainkan faktor ekonomi juga.




Walaupun indeks belakangan ini masuk kedalam fase Wait & See dikarenakan kesepakatan dagang yang masih belum menemukan titik terang. Menjadikan banyak investor besar atau kawakan memilih untuk diam dan menunggu terlebih dahulu, Bursa DJI dan kawan – kawan dua hari berturut – turut mengalami koreksi yang cukup besar. Dimana hal terebut murni dikarenakan negosiasi dagang Antara US – China yang masih ditunggu – tunggu.

Kesepakatan dagang yang deadline pada 1 Maret menjadikan pihak USA & China semakin gencar menemukan titik terang atas hubungan dagang mereka. Presiden US Donald Trum berkeinginan bertemu dengan presiden China Xi Jinping apabila kesepakatan dagang selesai.

Nah asal kalian tau , Analisa Credit Suisse menurunkan ( Overweight ) bobot bursa indonesia dari 20% Menjadi 10 % adalah sebagai berikut :

  • Penguatan rupiah sudah cukup signifikan sehingga sudah jenuh beli (overbought),
  • Secara siklus, pada 2019 Credit Suisse juga berkomitmen untuk Asia Utara, yang secara inkonsisten dengan rekomendasi overweight pada pasar saham Indonesia.
  • Pertumbuhan ekonomi Indonesia sangat tergantung dari revisi penurunan target yang besar.
  • Mengetatnya likuiditas akan membatasi pertumbuhan aset perbankan sedangkan profitabilitas sektor perbankan diprediksi akan stagnan dan valuasinya masih mahal.
  • Saham Indonesia sedang ditransaksikan pada valuasi premium yang sudah tidak menarik (sudah mahal).
  • Pasar saham Indonesia sudah jenuh beli (overbought) dan jenuh dimiliki (overowned) dibanding posisinya secara historis.

Dari keterangan yang diberikan oleh pihak Credit Suisse bahwa harga saham di indonesia sudah mahal ? . Jika dipikir dengan logika , Semakin besar perusahaan Semakin besar capitalis sebuah saham harga akan mengikuti perkembangan perusahaan tersebut. Contohnya PT Bank Central Asia Tbk yang dahulu IPO di kisaran harga non-Premium sekarang dengan berkembangnya perusahaan tersebut harga saham pun semakin mengikutinya.

Dari nilai tukar mata uang kita. Semenjak terdepresiasi ke 15000 sebenarnya wajar jika mereka menilai memasuki fase Overbought. Namun yang pasti keadaan depresiasi rupiah kemarin merupakan imbas dari perang dagang. Dan setelah sekian lama bermunculan ahirnya perang dagang akan segera selesai , dengan adanya kesepakatan dagang.




Lalu dengan terbitnya Overweight 10% apakah Indeks kita akan berdampak ? apakah akan terjun ke 5000 ? . Menurut kami walaupun indeks dikendalikan oleh Investor asing . Dimana dengan menjual sedikit saham biasanya Indeks akan langsung terjun. Namun berbeda dengan ketika mereka akumulasi . Indeks akan naik secara perlahan – lahan.

Memang tujuan bandar di semua penjuru bursa adalah sama . Dimana ” BANDAR AKAN MEMBUAT HARGA SEBUAH SAHAM TURUN UNTUK MEMBUAT PARA INVESTOR RETAIL MENJUAL BARANGNYA KE MEREKA “. Sudah tidak bisa di pungkiri lagi strategi para market maker tersebut. Ingat apabila kalian sudah mengetahui dan memahami ilmu bandarmology adabaiknya kalian pahami dan terus pelajari.

Indeks tidak akan bergerak menyentuh harga dibawah 6000 . Kinerja perusahaan yang baik, Perkembangan profit perusahaan tbk yang besar menjadikan indeks Indonesia berpotensi besar mengalami pertumbuhan 2 digit. JP Morgan selaku perusahaan investasi global masih menilai INDEKS INDONESIA BELUM DALAM KEADAAN OVERBOUGHT . Mereka memperkirakan dengan analisa mereka bahwa indeks indonesia masih akan tumbuh dalam jumlah yang besar. Sehingga kontra antara Credit Suisse & JP Morgan yang memiliki pandangan berbeda bisa membuat para investor asing bingung. Outflow dana asing pada bursa kita terbesar pada 31 Januari 2019. Dimana indeks di tangan mereka bisa di buat seakan – akan melonjak dengan menyertakan GAP .

Gambar : IHSG 13 Feb 2019 ( Sesi 1 )

Terlihat dari Net Foregin ada Inflow dana asing yang begitu banyak dalam bulan – bulan Januari . Dimana kegiatan mereka tersebut sukses untuk membuat indeks indonesia berada di fase Bullish. Namun terlihat sejak 07 Februari 2019 ada outflow saham di hari itu. Dengan konfirmasi Volume yang super – super besar. Dimana berlanjut hingga 4 hari kedepan. Eitss namun Asing masih tetap keep owned untuk beberapa saham – saham yang ada di indonesia. salah satunya adalah TLKM dimana asing sering sekali keluar masuk pada saham ini.

Namun yang pasti kami menilai Setelah analisa yang di keluarkan oleh Credit Suisse BELUM akan merubah pandangan para investor asing. Penilaian oleh Credit Suisse adalah dari Overboughtnya IDR/USD dan pergerakan saham yang sudah Bullish sejak terperangkap pada kisaran 5600an. Apabila Indeks MSCI di rebalancing dan tidak ada saham – saham indonesia yang masuk. Baru disitu kita akan khawatir jika Indeks kita akan bergerak sangat – sangat volatile dan mungkin bisa menyentuh ke bawah 6000.

Yang pasti kita sebagai investor retail hanya bisa menyakini jika saham di indonesia akan memberikan return yang besar dalam beberapa waktu kedepan. Tidak harus berkecil hati jika Asing banyak yang menilai saham di indonesia sudah masuk kedalam sisi Overbought . Yang pasti senjata andalan kita adalah APABILA MERAH perusahaan Bagus KITA BELI namun APABILA HIJAU dan perusahaan Yang kita lirik bagus harus tunggu dahulu jangan tergesa – gesa mengambil saham  tersebut.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.